Senin, 25 Mei 2020

Astronom Temukan 2 Bayi Planet Gas Mirip Jupiter

Astronom Temukan 2 Bayi Planet Gas Mirip Jupiter


OMNIA SLOT - Astronom melaporkan kelahiran dua planet baru yang mengorbit pada bintang PDS 70 yang berada di konstelasi Centaurus. Bintang itu berjarak 370 tahun cahaya dari Bumi.

Dalam penelitian tim astronom menemukan dua bayi raksasa itu dengan menggunakan sensor gelombang inframerah baru untuk koreksi optik adaptif (AO) di WM Keck Observatory di Maunakea, Hawaii.

PDS 70 adalah sebuah sistem multi planet di mana para astronom bisa melihat pembentukan planet secara langsung. Gambar langsung pertama salah satu planet barunya, PDS 70B, diambil pada 2018, diikuti gambar saudaranya, PDS 70C, pada 2019.

Dilansir Omnia Slot, kedua protoplanet ditemukan oleh Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory. Penulis utama dalam penelitian ini, Jason Wang, mengatakan, astronom sempat kebingungan saat kedua protoplanet pertama kali terdeteksi sebab piringan debu dan gas mengaburkan gambar planet.

"Embrio planet terbentuk dari piringan debu dan gas yang mengelilingi bintang yang baru lahir. Materi berbentuk lingkaran ini bertambah ke protoplanet. Menciptakan semacam tabir asap yang membuatnya sulit untuk membedakan piringan berdebu dan gas dari planet yang sedang berkembang dalam sebuah gambar," kata Wang.


Untuk membantu memberikan penjelasan, Wang dan timnya mengembangkan metode untuk memisahkan sinyal gambar dari cakram circumstellar dan protoplanet.

AO adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan kekaburan atmosfer pada gambar astronomi. Sistem AO milik Observatorium Keck mampu menghasilkan gambar yang lebih tajam dan lebih detail.

Dilansir dari Sci-News, PDS 70B berjarak sekitar 21 astronomical unit (AU) dari bintang PDS 70. Sama seperti jarak Uranus dari Matahari. Planet PDS 70B memiliki massa antara 4 hingga 17 kali lebih besar dari Jupiter.

Sementara itu, PDS 70C berjarak sekitar 34,5 AU dari bintang. Sama seperti jarak Neptunus dari Matahari. Massa PDS 70C lebih kecil dibandingkan PDS 70B. PDS 70C memiliki massa antara 1 hingga 10 kali lebih banyak dari Jupiter.- GLXgames

Merasakan Suasana Belanda di Rawa-rawa Minahasa

Rumah-rumah bergaya arsitektur Belanda di rawa-rawa Desa Tonsaru, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin siang, 27 Januari 2020.Para pemilik rumah adalah orang Tondano yang bermukim di Belanda dan mereka membangun rumah-rumah itu semula untuk rumah tinggal. Tapi lama-kelamaan difungsikan untuk mendukung pengembangan wisata di kampung halaman mereka sampai akhirnya rumah-rumah itu jadi objek wisata baru yang diandalkan Pemerintah Kabupaten Minahasa. TEMPO/Abdi Purmono

OMNIA SLOT - Andai saat ini tanpa pandemi Covid-19 dan Anda punya waktu sehari untuk berwisata di Tondano, Ibu Kota Kabupaten Minahasa. Waktu sehari tentu tak cukup untuk mengunjungi sedikitnya 15 objek wisata di Minahasa.

Simaklah penjelasan Roni Sepang, warga Kota Tomohon, tetangga dekat  Tondano. Tondano dan Tomohon dua daerah administratif mandiri di Provinsi Sulawesi Utara yang terpaut jarak sekitar 12 kilometer dengan waktu tempuh 20 menit menggunakan mobil, melewati kontur jalan perbukitan.

Menurut Roni, Pemerintah Kabupaten Minahasa sedang menggiatkan promosi 15 objek wisata, yaitu Danau Tondano, Benteng Moraya, rumah Belanda, Uluna Tondano, Sumaru Tondano, kolam air panas Citos Koya, kolam air panas Marfel Tataaran 1, wisata kuliner Boulevard, Gua Jepang Tonsealama, Taman Kota Tondano, rumah pohon Puncak Urango, Patung Korengkeng Sarapung, Makam Pahlawan Nasional Sam Ratulangi, dan Kampung Jawa yang populer dengan sebutan Kampung Jaton alias Jawa Tondano.

“Ya, minimal tiga hari bisa puas mengunjungi semua objek,” kata Roni Sepang kepada saya dan Hasudungan Sirait pada Senin, 17 Januari 2020. Saat itu kami melakukan perjalanan dari Kota Manado (Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara) dengan melintasi Tomohon dan berakhir di Tondano.

Lalu, dikutip Omnia Slot,  wartawan sebuah harian di Kota Manado itu merekomendasikan tujuan ke Danau Tondano, danau terbesar di Provinsi Sulawesi Utara dengan luas 4.278 hektare atau 42,78 kilometer persegi. Kami masih bisa menikmati suasana kota Tondano, terutama saat melintasi pasar dan taman kota, selepas keluar dari wilayah Tomohon mengarah ke lokasi danau, yang jadi objek wisata andalan utama Kabupaten Minahasa itu.

Dari pusat kota Tondano kami mengarah ke selatan. Jalanan lebar beraspal mulus. Sekitar 250 meter dari taman kota kami bersua Patung Korengkeng Sarupung yang berlokasi di pertigaan ujung Boulevard Tondano.

Monumen di Kelurahan Roong, Kecamatan Tondano Barat, ini dibangun untuk mengenang perjuangan Korengkeng dan Sarupung sebagai pemimpin rakyat Minahasa dalam Perang Tondano (1808-1809) melawan Belanda. Perang Tondano berpusat di Desa Purba Minawanua dan ditandai dengan bangunan Benteng Moraya. 

Benteng Moraya terpaut jarak sekitar 200 meter dari Patung Korengkeng Parupung. Berlokasi di tepi Danau Tondano, secara administratif Benteng Moraya berada di tepi Jalan Raya Tonsaru, Kecamatan Tondano Selatan.

Benteng itu jadi salah satu lokasi favorit tongkrongan warga kota dan tujuan wisatawan. Bentengnya dipugar semenarik mungkin dan tampak disesuaikan dengan selera generasi milenial. Cukup banyak spot foto yang Instagramable terutama di lokasi tegaknya 12 pilar kokoh yang bertuliskan kisah sejarah Minahasa.

Tapi kami tidak turun dari mobil untuk melihat dari dekat Benteng Moraya, lantaran kami harus selekas mungkin tiba di Danau Tondano sebelum sore tiba, apalagi kami pun belum makan siang.

Masalahnya, tak jauh dari Benteng Moraya pandangan kami bersua pemandangan bentangan luas rawa-rawa yang berlatar Pegunungan Mahawu atau Mawo dalam pelafalan orang Minahasa. Ada lima rumah bergaya arsitektur Belanda yang menyita perhatian. Roni bilang rumah Belanda itu objek wisata baru yang mulai populer. Maka, kami pun berhenti sejenak.

Roni mengatakan, rumah-rumah itu dibangun oleh orang Tondano asli yang bermukim di Belanda. Mereka membangunnya untuk mendukung pengembangan pariwisata Tondano, khususnya di rawa-rawa Desa Tonsaru, Kecamatan Tondano Selatan, itu.

Seingat Roni, rumah-rumah itu dibangun antara 2016 dan 2018. Beberapa rumah model serupa sedang dibangun, lengkap dengan kafe, sehingga jadi pemandangan menarik bagi pelancong yang menuju Danau Tondano.

“Sebagian rawa sudah dikavling-kavling untuk dijual. Sebagian bangunan baru itu milik orang sini yang tinggal di Minahasa atau Manado. Sedangkan rumah-rumah Belanda yang duluan ada memang dibangun orang Tondano yang tinggal di Belanda. Istilahnya, mereka ingin membangun kampung halaman lewat pariwisata,” ujar Roni, 40 tahun.

            Baca Juga : " Monyet di Tabanan Bali Terkena Imbas Wabah Corona "


Ada dua rumah yang tampak paling mencolok dan paling banyak dikunjungi pelancong. Kedua rumah terpisah jarak 150 meter dan sama-sama punya kolam cukup luas. Lingkungan rumah dihiasi beragam tanaman air atau hidrofit seperti melati air (Eichinodorus paleafolius), papirus payung (Cyperus alternifolius), lidi air (Typha angustifolia), ekor kucing/stok (Typha latifolia), dan teratai merah muda (Nelumbo nucifera).

Di salah satu rumah Belanda bercat hitam kecokelatan tampak seorang pria mengayuh rakit di sebuah kolam luas. Kolam ini ditumbuhi teratai. Tidak diketahui nama pemiliknya.

Sedangkan satu rumah lagi diketahui milik keluarga Lekow Wangko. Wangko merupakan salah satu marga etnis Minahasa. Rumah inilah yang paling banyak dikunjungi sehingga identik dengan nama objek wisata Lekow Wangko. Rumah ini memiliki beberapa spot foto, antara lain, balon udara, kincir angin, taman bunga, dan rumah Hobbit.

Saya tidak masuk ke dalam rumah akibat keterbatasan waktu. Dari keterangan pengunjung dan warga setempat, saya jadi tahu aslinya rumah-rumah bergaya Negeri Kincir Angin itu semula difungsikan sebagai rumah tinggal. Namun, lama-kelamaan rumah tersebut ramai dikunjungi warga dan pelancong Danau Tondano.

Rovi Manda, seorang warga mengatakan, Lekow Wangko paling banyak dikunjungi sore hari, terutama pada akhir pekan Sabtu-Minggu. Umumnya pengunjung berburu momen matahari terbenam atau sunset. Hasil foto kemudian diunggah ke media sosial.

Semula pengelola rumah menggratiskan biaya kunjungan semasa belum ramai banget pengunjung. Saat itu mayoritas pengunjung hanya berfoto-foto di tepi jalan, di titian kayu di atas kolam, maupun di selasar rumah. Belakangan, baru dua tahun terakhir pengelola rumah mengenakan ongkos “tanda terima kasih” Rp 10 ribu per orang yang ingin berswafoto di perkarangan dan dalam rumah.

Berawal cuma buat foto-foto biasa, Lekow Wangko serta rumah-rumah Belanda lainnya makin diminati wisatawan dan pengunjung yang ingin membuat foto pranikah atau prewedding di dalam dan luar rumah. Nah, akhirnya, pengelola mematok tarif tertentu.

Supaya makin menarik minat pengunjung, pengelola pun menyewakan baju-baju ala Belanda, Jepang, dan Korea, lengkap dengan pernak-perniknya. Baju-baju tematik ini disediakan di lantai dua Lekow Wangko dengan harga sewa antara Rp25.000 sampai Rp20.000. Pengunjung bebas berpose di seluruh area rumah kecuali kamar tidur pemilik.

“Sekarang, setahu saya, rumah Lekow Wangko dan rumah Belanda di sebelahnya juga sudah difungsikan sebagai tempat penginapan. Tapi saya enggak tahu berapa tarifnya per malam karena masih baru sekali sebagai penginapan,” kata Rovi Manda.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Danau Tondano yang tinggal berjarak 1,5 kilometer lagi dari deretan rumah Belanda. Roni sempat menunjukkan lokasi kampus Universitas Negeri Manado yang kami lewati.

Nah, saya dan Hasudungan baru tahu alasan Roni menyarankan kami ke Danau Tondano. Dengan sekali jalan dari pusat kota Tondano, kami bisa menikmati lima objek wisata sekaligus dalam satu kali perjalanan.

Saya sempat mengatakan pada Roni bahwa walau lanskapnya tidak sama, keberadaan rumah-rumah Belanda itu mengingatkan saya pada artikel tentang Desa Giethoorn di Provinsi Overijssel, Belanda. Desa berpopulasi sekitar 2.900 jiwa ini terkenal dengan rumah-rumah cantik dan terhubung dengan jembatan-jembatan unik. Suasananya sangat asri dan bersih.

Bisa saja, kelak suatu saat, rumah-rumah Belanda di Desa Tonsaru itu bisa seperti Giethoorn dan bahkan lebih keren asal ditata dan dikelola sungguh-sungguh.- GLXgames

Monyet di Tabanan Bali Terkena Imbas Wabah Corona

Sangeh Bali Monkey Forest - Lokasi, Daya Tarik & Tiket Masuk 2020

OMNIA SLOT - Monyet di objek wisata Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, turut terkena imbas wabah corona. Selama pandemi Covid, jumlah kunjungan wisatawan ke Tabanan turun drastis sehingga mengakibatkan monyet-monyet di sana kelaparan.

Monyet di Alas Kedaton tak takut manusia. Mereka akan mendekati orang-orang yang datang membawa makanan. Namun selama hampir dua bulan ini, destinasi wisata itu sepi.

Dilansir Omnia Slot, Hingga pada Jumat, 1 Mei 2020, puluhan warga Bali datang ke Alas Kedaton untuk membagikan makanan kepada sekitar 1.500 ekor monyet yang ada di sana. Masyarakat membawa sekarung makanan berisi ubi dan roti kemudian menyebarkannya di beberapa titik.

            Baca Juga : " Mau Mendaki Gunung Semeru? Simak 4 Tips Ini "

Monyet-monyet yang berada di berbagai sudut Alas Kedaton langsung menghampiri dan berebut makanan. "Ini menjadi aksi peduli kami untuk menghindari ancaman kelaparan para binatang akibat wabah corona," kata Sekretaris Desa Adat Kukuh Tabanan, I Dewa Nyoman Suarta.

Menurut dia, dua kali dalam sehari masyarakat membawakan makanan untuk monyet-monyet di Alas Kedaton. Biasanya masyarakat membawa 120 kilogram ubi dan sekitar 15 kilogram makanan lain, seperti roti dan buah-buahan. "Waktu makannya jam 10.00 dan 15.00," kata Nyoman Suarta.

Selain bantuan dari masyarakat, Desa Kukuh Tabanan menyiapkan dana Rp 15 juta untuk memenuhi kebutuhan pangan monyet-monyet di objek wisata Alas Kedaton.- GLXgames

Mau Mendaki Gunung Semeru? Simak 4 Tips Ini

Apa saja hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat pendakian Gunung ...


OMNIA SLOT - Bagi para pendaki, Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur dengan ketinggian 3.676 di atas permukaan laut adalah salah satu tempat favorit. Gunung memiliki keindahan yang sangat menakjubkan. Maka tak heran gunung ini sangat populer di kalangan para pecinta alam di seluruh Indonesia.

Dilansir dari Omnia Slot, Ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum mendaki puncak Semeru. Para pendaki diwajibkan untuk mendaftarkan diri secara online untuk bisa pergi ke Gunung Semeru seminggu sebelum pendakian. Harga untuk mendapatkan surat izin memasuki kawasan konservasi (SIMAKSI) adalah Rp 17.500 per orang per hari untuk weekday dan Rp 20.000 per orang per hari pada saat Weekend.

Siapkan fotokopi KTP atau identitas lain, juga surat keterangan sehat dari dokter yang dibuat sehari sebelum melakukan pendakian, siapkan juga materai 6000 dan bukti pembayaran.

Persyaratan di atas wajib dibawa saat melakukan registrasi di base camp pendakian. Tujuannya agar pihak TNBTS bisa mendata dan mengontrol para pengunjung yang ingin mendaki.

Berikut tips yang bisa kalian pelajari sebelum melakukan pendakian Gunung Semeru mulai awal perjalanan sampai melakukan pendakian.

1. Transportasi Perjalanan

Bagi pendaki dari arah Jakarta bisa menggunakan moda transportasi kereta api, bis, atau kendaraan pribadi. Umumnya pendaki dari daerah Jakarta menggunakan kereta api karena gampang dan tidak ribet.

Dari Jakarta kita bisa menaiki kereta dari stasiun Gambir atau stasiun Pasar Senen dengan tujuan ke stasiun Malang. Setibanya di stasiun Malang selanjutnya kita mencari angkutan umum untuk pergi ke arah Tumpang dan tujuan akhir ke Ranupani, Senduro, Lumajang.

2. Estimasi Waktu Pendakian

Ranu Pane ke Pos 1: 1 jam

Pos 1 ke pos 2: 30 menit - 45 menit

Pos 2 ke pos 3: 1 jam - 1.5 jam

Pos 3 ke pos 4 : 45 menit

Pos 4 ke Ranu Kumbolo: 30 menit

Ranu Kumbolo ke Cemoro Kandang : 1 jam

Cemoro Kandang ke Jambangan: 2 jam

Jambangan ke Kalimati : 1 jam

Kalimati ke Kelik: 1 jam

Kelik ke Puncah Mahameru: 4 jam - 6 jam

                Baca Juga : " New Normal Dibonceng Ojol, Warga Diimbau Pakai Helm Sendiri "


Untuk melakukan pendakian Gunung Semeru kita membutuhkan waktu 4-5 hari dari awal perjalanan pamit hingga pulang ke rumah dengan selamat.

Apa saja yang harus dipersiapkan untuk bisa melakukan pendakian dengan aman dan selamat?


3. Siapkan Peralatan Lengkap

Peralatan yang harus dibawa untuk para pendaki adalah sepatu trekking, sandal, pakaian, kaos kaki, topi, jaket, tas, jas hujan, sleeping bag, matras, head lamp. Untuk tenda kelompok seperti tenda, logistik dan alat makan.

Semua itu wajib dibawa untuk para pendaki yang ingin melakukan pendakian gunung apapun agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, masih ada para pendaki yang belum sadar akan keselamatan diri maupum lingkungan. Masih ada pendaki yang memakai sepatu yang tidak seharusnya dipakai untuk pendakian.

4. Persiapkan Fisik

Sebelum perjalanan dimulai, diwajibkan untuk melakukan persiapan fisik terlebih dahulu. Kita bisa melakukan latihan dengan cara lari, push up, trap tangga, dan olah raga lainnya untuk mengoptimalkan fisik kita.

Ketika mendaki namun cuaca sedang hujan, tentunya fisik mengalami drop. Untuk itu para pendaki sebaiknya menggunakan alat penghangat badan seperti jaket atau sleeping bag agar tubuh tetap dalam keadaan normal.

Ketika melakukan perjalanan di trek jalan terjadi hujan, sebaiknya para pendaki membuat tenda darurat dengan menggunakan flysheet agar tidak basah dan kedinginan. Jika hal itu terjadi kemungkinan besar akan mengalami hipotermia.

Nah, jadi itulah tips untuk kalian para pecinta alam yang ingin melakukan pendakian ke Gunung Semeru dan menikmati keindahan alam yang manakjubkan.

Setelah semua persyaratan sudah dilengkapi Anda bisa melakukan pendakian sesuai waktu yang sudah ditentukan. Selalu hati-hati saat melakukan pendakian dan jangan melanggar aturan yang sudah ditentukan.- GLXgames

Astronom Temukan 2 Bayi Planet Gas Mirip Jupiter

OMNIA SLOT - Astronom melaporkan kelahiran dua planet baru yang mengorbit pada bintang PDS 70 yang berada di konstelasi Centaurus. B...